MUHASABAH DIRI

Sejenak mari kita berdiam, merenung, mengingat waktu yang telah kita gunakan, dan proses yang telah kita lakukan serta hasil yang telah kita raih selama ini. Adakah titik-titik kelemahan atau garis ketidakpuasan di dalamnya? Pasti ada…. It’s human.

Manusia memang dilahirkan bukan seperti malaikat yang terbuat dari cahaya, juga bukan seperti iblis yang terbuat dari api. Manusia terdiri dari elemen-elemen kehidupan. Manusia mempunyai sisi baik dan buruk, serta nafsu baik dan buruk.

Coba lihat diri kita. Ketika kita ‘bercermin’, apakah sosok ini telah benar-benar layak disebut manusia, hamba Tuhan yang baik dan benar? Jika belum, mengapa?
Dan setiap hati akan bisa menjawabnya asalkan ia jujur, bersih, dan mau mengakui kesalahan yang pernah ia lakukan.

“Tuhanku, hamba takut jika kehadiran hamba di dunia ini tidak seperti apa yang Engkau inginkan. Hamba takut jika hamba belum sepenuhnya patuh pada perintahMu. Hamba takut jika pujian manusia adalah pujian yang menyesatkan bagi hamba, sehingga hamba lalai dan sulit berintrospeksi diri. Hamba takut Engkau tidak bersama hamba. Hamba takut jika hati dan pikiran serta niat hamba tak sepenuhnya ikhlas hanya untukMu.
Dunia ini dan seluruh isinya yang ku anggap kepunyaanku, sesungguhnya tiada arti tanpa ridho dan kasih sayangMu.
Ya Tuhanku, Ya Rabbi.. hamba mohon bersihkan jiwa hambaMu ini yang penuh dosa, yang penuh amarah serta kekhilafan. Jika hamba masih diberi waktu, perkenankan hamba untuk memeperbaiki kesalahan yang telah lalu, mensyukuri nikmat dan karuniaMu, melakukan apa yang menjadi perintahMu dan menjalani karunia terbesar ini dengan sebaik-baiknya.”

Semua ini tak berarah jika kita tak punya benang tujuan. Titik-titik adalah hari-hari kita yang akan membentuk sebuah garis menuju tujuan yang sesungguhnya. Untuk apa kita ada disini? Dan kemana kita harus kembali?

Bismillahirrahmanirrahim, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..
Let’s learn by doing something.
Semoga kita selalu  berusaha mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta, The Greatest Creator of The World, Allah SWT. Moment dimana kita bisa ‘curhat’ dan prepare untuk tujuan yang sesungguhnya.

Iklan

KEMATIAN BISA DIUNDUR

Kematian memang di tangan Allah. Maka ada satu hal yang bisa membuat kematian menjadi sesuatu yang bisa ditunda, yaitu kemauan bersedekah, kemauan berbagi dan peduli.

SUATU hari, Malaikat Kematian mendatangi Nabiyallah Ibrahim, dan bertanya, “Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?”

“Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”

“Ada apa dia datang menemuimu?”
“Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok pagi.”

“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok pagi.” Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan Nabiyallah Ibrahim. Hampir saja Nabiyallah Ibrahim tergerak untuk rriemberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabiyallah Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah.

Esok paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabiyallah Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya.

Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah Ibrahim bertanya kepada Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi? Malaikat Kematian menjawab bahwa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah menahannya.

“Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?”

“Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup.”

Saudara-saudaraku, pembaca “Kajian WisataHati” dimanapun Anda berada, kematian memang di tangan Allah. justru itu, memajukan dan memundurkan kematian adalah hak Allah. Dan Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya, Muhammad shalla `alaih bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. jadi, bila disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah…sedekah.

Maka, tengoklah kanan-kiri Anda, lihat-lihatlah sekeliling Anda. Bila Anda menemukan ada satu-dua kesusahan tergelar. maka sesungguhnya Andalah yang butuh pertolongan. Karena siapa tahu kesusahan itu digelar Allah untuk memperpanjang umur Anda. Tinggal apakah Anda bersedia menolongnya atau tidak. Bila bersedia, maka kemungkinan besar memang Allah akan memanjangkan umur Anda.

Saudara-saudaraku sekalian, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan sampai. Dan, tidak seseorangpun yang mengetahui dalam kondisi apa ajalnya tiba. Maka mengeluarkan sedekah bukan saja akan memperpanjang umur, melainkan juga memungkinkan kita meninggal dalam keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang cintanya Allah? Sedangkan kalau seseorang sudah dicintai oleh Allah, maka tidak ada masalahnya yang tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawa yang dicabut dalam keadaan husnul khatimah.

Mudah-mudahan Allah berkenan memperpanjang umur, sehingga kita semua berkesempatan untuk mengejar ampunan Allah dan mengubah segala kelakuan kita, sambil mempersiapkan kematian datang.

Sampai ketemu di pembahasan berikutnya. Insya Allah, kita masih membahas “sedikit tentang menunda umur, tapi kaitannya dengan kesulitan-kesulitan hidup yang kita hadapi “.

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan” (An-Nisaa: 78)

Yusuf Mansur


Hakikat ukhuwah menurut Ikhwanul Muslimin

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarganya dan para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya.

Wahai Ikhwan sekalian: sungguh Islam telah memberikan perhatian penuh akan adanya ikatan yang kuat pada sendi-sendi ukhuwah yang melahirkan di dalamnya cinta karena Allah SWT, dan menjadikan ukhuwah sebagai sarana pemersatu jiwa dan hati dan merupakan dasar pokok-pokok keimanan yang tidak akan sempurna keimanan seseoerang kecuali dengannya, dan tidak akan terealisir kecuali dengan keberadaannya; bahkan dijadikan sebagai ikatan yang paling erat dari pokok-pokok keimanan dan kesempurnaan nilai-nilainya, Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌٌ

“Hanyalah orang-orang beriman yang memiliki ukhuwah”. (Al-Hujurat:10).

Dan Nabi saw bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ

“Seorang muslim adalah saudara dengan muslim lainnya, tidak boleh menzhaliminya, tidak membiarkannya, tidak merendahkannya dan menghinakannya”. (Muttafaq alaih).

Dan Nabi saw juga bersabda:

مَثَل الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كمَثَل الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, cinta kasih dan empati adalah seperti satu tubuh, jikasalah satu tubuh darinya mengadu pada suatu penyakit maka anggota tubuh lainnya akan merasa sakit dan begadang”.(Muttafaq alaih)

Karena itulah di antara salah satu rukun dari rukun baiat kita adalah ukhuwah, dan di antara salah satu dasar perbaikan sosial secara universal yang dibawa oleh Islam adalah memproklamirkan adanya ukhuwah di tengah umat manusia.

Makna ukhuwah menurut Ikhwanul Muslimin

Imam al-muassis (pendiri) Hasan Al-Banna semoga Allah merahmatinya berkata:

وأريد بالأخوة: أن ترتبط القلوبُ والأرواحُ برباط العقيدة، والعقيدة أوثق الروابطِ وأغلاها، والأخوَّة أخت الإيمان، والتفرُّقُ أخو الكفر، وأول القوة قوة الوحدة، ولا وِحْدَةَ بغير حب، وأقل الحب سلامة الصدر، وأعلاه مرتبة الإيثار

“Yang sangat maksud dengan ukhuwah adalah: mengikatnya hati-hati dan jiwa-jiwa ini dengan ikatan aqidah, dan aqidah merupakan ikatan yang paling kokoh dan paling mahal harganya, dan ukhuwah adalah saudara keimanan, sementara perpecahan adalah teman dari kekufuran, kekuatan yang utama adalah persatuan dan tidak ada persatuan tanpa cinta, dan cinta paling rendah adalah lapang dada, sementara yang paling tinggi adalah itsar.

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”. (Al-Hasyr:9)

Al-akh yang jujur adalah yang melihat saudaranya lebih utama daripada dirinya sendiri; karena jika tidak dengan mereka maka dirinya tidak bersama dengan yang lainnya, dan jika mereka tidak bersama dengannya maka mereka akan bersama dengan yang lainnya,

إِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الْغَنَمِ الْقَاصِيَةَ

“Sesungguhnya Serigala akan makan domba yang tersesat sendirian”. (Abu Daud dan ditashih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

dan nabi saw bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang Mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan, saling memperkokoh sebagiannya dengan sebagian lainnya”. (Muttafaq alaih).
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
“Dan orang-orang beriman laki-laki dan wanita sebagian mereka menguatkan sebagian lainnya”. (At-Taubat:71).

Demikianlah yang seharusnya terjadi

Ukhuwah menurut kami adalah agama, dan Ikhwanul Muslimin masih terus berambisi dan bersemangat untuk mewujudkan ukhuwah yang benar dan sempurna di antara mereka, bersungguh-sungguh untuk tidak memperkeruh kemurnian dan kesucian hubungan mereka sedikitpun, menyadari bahwa ukhuwah dalam agama adalah sebaik-baik sarana yang dapat mendekatkan diri dengannya kepada Allah, dan tetap memelihara kemuliaan derajat yang tinggi, dan oleh karena itu mereka juga berambisi untuk selalu memperhatikan hak-haknya sehingga mampu membersihkan hal-hal yang dapat membuat keruh dan dari bisikan-bisikan syaitan, dan para ulama telah menjadikan serendah-serendahnya derajat ukhuwah adalah berinteraksi dengan saudaranya dengan apa yang dicintai dalam berinteraksi dengannya.

Dan di antara hak-hak ukhuwah adalah sabar terhadap kesalahan al-akh sampai dirinya mampu mengembalikannya pada kebenaran tanpa dibesar-besarkan (publikasi) akan kesalahannya atau menyebarkan kesalahan dan kekeliruannya. Abu Darda berkata:

إذا تغيَّر أخوك وحال عما كان عليه فلا تَدَعْه لأجل ذلك؛ فإن أخاك يَعْوَجُّ مرةً ويستقيم أخرى

“Jika saudara Anda berubah dan bertingkah dari apa dalam dirinya maka janganlah ditinggal karena hal tersebut; karena boleh jadi saudara Anda bengkok (salah) pada suatu saat namun lurus kembali pada saat yang lain”.

Ibrahim An-Nakha’i berkata:

لا تَقْطَعْ أَخَاك وَلا تَهْجُرْهُ عِنْدَ الذَّنْبِ، فَإِنَّهُ يَرْتَكِبُهُ الْيَوْمَ وَيَتْرُكُهُ غَدًا

“Janganlah engkau memutus hubungan saudara atau meninggalkannya di sisi serigala, karena boleh jadi suatu kali dirinya salah namun esoknya dapat ditinggalkan”. Dalam atsar yang lain disebutkan:

به أو إشاعةٍ لزلاته، قال أبو الدرداء: “”، وَقَالَ إبراهيم النَّخَعِيُّ: “”، وجاء في بعض الآثار: قال عيسى عليه السلام للحواريين: “كيف تصنعون إذا رأيتم أخاكم نائمًا وقد كشف الريحُ ثوبَه عنه؟” قالوا: نستره ونُغَطِّيه، قال: بل تكشفون عورته! قالوا: سبحان الله! مَن يفعل هذا؟ فقال: “أحدُكم يسمعُ بالكلمةِ في أخيه فيزيدُ عليها ويُشِيعُها بأعظمَ منها

Nabi Isa berkata kepada al-hawariyun: Bagaimana kalian memperlakukan saudara kalian jika melihatnya tidur lalu angin bertiup dan menyingkap pakaiannya? Mereka menjawab: akan kami singsingkan bajunya dan menutupinya. Nabi Isa: namun kalian akan menyingkapkan auratnya! Mereka berkata: Maha suci Allah! Siapakah yang melakukan demikian? Beliau berkata: Salah seorang dari kalian yang mendengar ucapan tentang saudaranya kemudian ditambah-tambah olehnya dan disebarkannya dengan sesuatu yang lebih darinya”.

Dan bahkan pada saat berbeda pendapat dengan Ikhwan, maka ikatan ukhuwah harus mampu melindungi mereka dari terjadinya saling membuka aib, atau menyebarkan syubhat, atau membuat cerita bohong, dan hendaknya mereka memelihara ungkapan seorang ulama fiqih imam Syafi’i semoga Allah merahmatinya:

الحُرُّ مَنْ رَاعَى وِدَادَ لَحْظَةٍ، وَانْتَمَى لِمَنْ أَفَادَه لَفْظَةً

“Orang yang merdeka adalah orang yang mampu melindungi kasih sayang sesaat, dan loyal pada orang yang memanfaatkannya ucapannya”.

Dan di antara hak-hak ukhuwah yang diserukan oleh Ikhwanul Muslimin adalah apa yang telah disampaikan oleh Al-Fudhail bin Iyadh semoga Allah merahmatinya:

نَظَرُ الأخِ إلى وجه أخيه على المودَّةِ والرحمةِ عبادةٌ، فلا تصحُّ المحبةُ في الله عزَّ وجلَّ إلا بما شرط فيها من الرحمة في الاجتماع والخلطة، وعند الافتراق: بظهور النصيحة، واجتناب الغيبة، وتمام الوفاء، ووجود الأنس، وفقد الجفاء، وارتفاع الوحشة

 

Dan juga disebutkan: Jika terjadi ghibah maka hilanglah ukhuwah. Begitu indah dan lembut ungkapan seorang salaf yang menyampaikan nasihat kepada saudaranya yang meninggalkan dirinya:

Sampaikanlah kepada saya; saya telah jahat seperti yang engkau katakan

Karena itu, dimanakah kasih sayang dalam ukhuwah

Atau jika Anda jahat sebagaimana aku jahat

Maka, dimanakah karuniamu dan kasih sayangmu

Dan bukanlah bagian dari akhlaq seorang akh muslim ketika selalu membeberkan  sebab-sebab aib pada saat berdirinya berbeda pendapat dari saudaranya atau yang lainnya, atau berusaha meremehkan kelebihannya, atau menghina perbuatan dan pemberiannya. Al-Faruq Umar bin Khattab memberikan satu nasihat: “Janganlah cintamu dijadikan sebagai beban, dan jangan jadikan pula marah mu sebagai kehancuran. Kemudian ada yang bertanya: bagaimanakah maksudnya? Umar berkata:

لا يَكُنْ حُبُّكَ كَلَفًا، وَلا يَكُنْ بُغْضُكَ تَلَفًا”، فلما سُئل: وكيف ذلك؟ قال: “إِذَا أَحْبَبْتَ فَلا تَكْلَفْ كَمَا يَكْلَفُ الصَّبِيُّ بِالشَّيْء يُحِبُّهُ، وَإِذَا أَبْغَضْتَ فَلا تَبْغَضْ بُغْضًا تُحِبُّ أَنْ يَتْلَفَ صَاحِبُكَ وَيَهْلِكَ
“Jika Anda mencintai jangan berlebihan seperti cintanya seorang bayi pada sesuatu secara berlebihan, dan jika Anda marah maka jangan membuat Anda senang hancurnya saudara Anda dan celaka”. (Bukhari dalam kita Adab) Hasan bin Ali berkata:
لا تُفْرِطْ فِي حُبِّكَ، وَلا تُفْرِطْ فِي بُغْضِكَ، مَنْ وَجَدَ دُونَ أَخِيهِ سِتْرًا فَلا يَكْشِفْ

“Janganlah Anda berlebihan dalam mencintai sesuatu, dan jangan pula berlebihan dalam membenci sesuatu, dan barangsiapa yang menemukan pada saudaranya tanpa sitar (penutup) maka janganlah disingkap lagi”. (Abdul Razaq).

Dan diantara hak-hak ukhuwah adalah memberikan nasihat dengan adab-adab syar’i: jangan diumbar dan di depan umum, jangan disakiti dihadapan khalayak ramai dan pada suatu lembaga, dan jangan diungkap rahasia dirinya, jangan dibuat-buat dan dusta, tidak ada pembenaran penggunaan segala cara terhadap suatu kesalahan, tidak ada mujamalah dalam menghitung suatu kebenaran, tidak cenderung pada sakit hati dan pemenangan hawa nafsu, namun harus dengan nasihat yang aman dan benar serta jujur, bebas dari tuduhan, ditunaikan sesuai dengan amanah, dengan diringin adalah kasih sayang, dan menumbuhkan perasaan ukhuwah.

Ukhuwah adalah rahasia kekuatan dakwah kita:

Sesungguhnya ukhuwah yang kami sebutkan hak-haknya, wahai Ikhwanul Muslimin adalah sebuah batu yang mampu menghancurkan gelombang konspirasi dan usaha menguasai dakwah kita yang penuh berkah ini, dan ia merupakan titik awal sebuah kemenangan.

وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ. وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ. يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللهُ وَمَنْ اتَّبَعَكَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan jika mereka bermaksud menipumu, Maka Sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan Para mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu”. (Al-Anfal:62-64)

Wahai Ikhwanul Muslimin: Sungguh nabi saw telah memaklumatkannya dengan jelas dan gamblang:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيث، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah kalian akan buruk sangka, karena buruk sangka adalah sedusta-dusta ucapan, dan janganlah kalian saling menduga-duga, jangan saling mengintai, jangan saling hasad, jangan saling berkonspirasi, jangan saling benci (marah), namun jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara“. (Muttafaq alaih).

Umat Islam di masa awal memahami dari Islam akan makna ukhuwah ini, merasuk dalam aqidah dan agama Allah secara kekal akan perasaan cinta dan bersatu serta berkasih sayang, dan fenomena yang paling mulia adalah ukhuwah dan ta’aruf, sehingga seakan mereka menjadi sosok yang satu, satu hati, satu tangan, maka Allah pun mewujudkan pada mereka kemenangan, kemuliaan dan kejayaan.

Karena itulah, marilah kita berpegang teguh pada ukhuwah yang kekal ini yang niscaya tidak akan sirna sekalipun dunia akan hancur, sekalipun hari-hari akan hilang dan berlalu namun ukhuwah akan tetap kekal sepanjang masa, dan hendaklah kita terus memelihara dan berambisi untuk menunaikan hak-hak ukhuwah ini, merasakan nilai-nilainya, menjaga wirid Rabithah setiap hari. Semoga Allah tetap bersama kalian dan tidak menyia-nyiakan perbuatan kalian.

Allah Maha besar dan segala puji hanya milik Allah

Muhammad Mahdi Akif

Mursyid Am Ikhwanul Muslimin

 


INDAHNYA BERPRASANGKA BAIK

Hubungan baik antara manusia yang satu dengan yang lain, dan khususnya antara muslim yang satu dengan muslim lainnya, merupakan sesuatu yang harus diupayakan dengan sebaik-baiknya. Hal ini karena Allah swt. telah menggariskan bahwa setiap mukmin itu bersaudara [QS. Al-Hujurat (49):10]. Oleh sebab itu, segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkokoh dan memantapkan persaudaraan harus ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah harus dihilangkan. Dan agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah husnuzh zhan (berbaik sangka).

Oleh karena itu, apabila kita mendapatkan informasi negatif tentang sesuatu yang terkait dengan pribadi seseorang apalagi seorang muslim, maka kita harus melakukan tabayyun (pengecekan) terlebih dahulu sebelum mempercayai apalagi meresponnya secara negatif. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [QS. Al-Hujurat (49): 6]

Fadhilah dan Manfaat

Ada banyak nilai dan manfaat yang diperoleh seorang muslim bila dia memiliki sifat husnuzh zhan kepada orang lain. Pertama, hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik. Hal ini karena berbaik sangka dalam hubungan sesama muslim akan menghindari terjadinya keretakan hubungan. Bahkan keharmonisan hubungan akan semakin terasa karena tidak ada kendala-kendala psikologis yang menghambat hubungan itu.

Kedua, terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama. Karena buruk sangka akan membuat seseorang menimpakan keburukan kepada orang lain tanpa bukti yang benar, sebagaimana difirman Allah dalam QS. Al-Hujurat (49): 6 di atas.

Ketiga, selalu berbahagia atas segala kemajuan yang dicapai orang lain, meskipun kita sendiri belum bisa mencapainya. Hal tersebut memiliki arti yang sangat penting, karena dengan demikian jiwa kita menjadi tenang dan terhindar dari iri hati yang bisa berkembang pada dosa-dosa baru sebagai kelanjutannya. Ini berarti kebaikan dan kejujuran akan mengantarkan kita pada kebaikan yang banyak dan dosa serta keburukan akan mengantarkan kita pada dosa-dosa berikutnya yang lebih besar lagi dengan dampak negatif yang semakin banyak.

Kerugian Berburuk Sangka (Su’uzh Zhan)

Manakala kita melakukan atau memiliki sifat berburuk sangka, ada sejumlah kerugian yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

1. Mendapat Nilai Dosa

Berburuk sangka jelas-jelas merupakan dosa, karena disamping kita tanpa dasar yang jelas sudah menganggap orang lain tidak baik, berusaha menyelidiki atau mencari-cari kejelekan orang lain. Juga akan membuat kita melakukan dan mengungkapkan segala sesuatu yang buruk tentang orang lain yang kita berburuk sangka kepadanya. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa.” [QS. Al-Hujurat (49): 12]

2. Dusta Yang Besar

Berburuk sangka akan membuat kita menjadi rugi, karena apa yang kita kemukakan merupakan suatu dusta yang sebesar-besarnya. Hal ini disabdakan oleh Rasulullah saw., “Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta.” (HR. Muttafaqun alaihi)

3. Menimbulkan Sifat Buruk

Berburuk sangka kepada orang lain tidak hanya berakibat pada penilaian dosa dan dusta yang besar, tapi juga akan mengakibatkan munculnya sifat-sifat buruk lainnya yang sangat berbahaya, baik dalam perkembangan pribadi maupun hubungannya dengan orang lain. Sifat-sifat itu antara lain ghibah, kebencian, hasad, menjauhi hubungan dengan orang lain, dan lain-lain.

Dalam satu hadits, Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seseorang benar dan selalu memilih kebenaran, dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta, sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seseorang dusta dan selalu memilih dusta, dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhari)

Larangan Berburuk Sangka

Karena berburuk sangka merupakan sesuatu yang sangat tercela dan mengakibatkan kerugian, maka perbuatan ini sangat dilarang di dalam Islam sebagaimana yang sudah disebutkan pada surat Al Hujurat ayat 12. Untuk menjauhi perasaan berburuk sangka, maka masing-masing kita harus menyadari betapa hal ini sangat tidak baik dan tidak benar dalam hubungan persaudaraan, apalagi dengan sesama muslim. Disamping itu, bila ada benih-benih perasaan berburuk sangka di dalam hati, maka hal itu harus segera diberantas dan dijauhi karena itu berasal dari godaan setan yang bermaksud buruk kepada kita. Dan yang penting lagi adalah memperkokoh terus jalinan persaudaraan antar sesama muslim agar yang selalu kita kembangkan adalah berbaik sangka, bukan malah berburuk sangka.

Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab r.a. menyatakan, “Janganlah kamu menyangka dengan satu kata pun yang keluar dari seorang saudaramu yang mukmin kecuali dengan kebaikan yang engkau dapatkan bahwa kata-kata itu mengandung kebaikan.”

Demikian hal-hal pokok yang harus mendapat perhatian kita dalam kaitan dengan sikap husnuzhzhan (berbaik sangka).

 


Tarbiyah Jasadiyah

“Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat fisiknya lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qashash: 26).

Senada dengan ayat di atas, terdapat pula ayat di mana Allah Subhaanahu Wata’ala menjelaskan tentang Thalut penguasa Bani Israil, yaitu firman Allah Subhaanahu Wata’ala, artinya,

“…(Nabi mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” (QS. Al Baqarah: 247).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah menekankan urgensi kekuatan bagi seorang mukmin dengan segala maknanya, sebagaimana sabda beliau,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).

Ada beragam cara untuk membina jasmani yang sehat dan kuat. Baik berupa permainan maupun olahraga. Di antaranya adalah seperti yang pernah dilakukan atau diperintahkan oleh Rasulullah Subhaanahu Wata’ala, antara lain:
1. Memanah
Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu selalu ingin latihan memanah padahal beliau telah lanjut usia, sehingga pernah ada yang mengatakan kepadanya, “Anda mengerjakan itu padahal Anda telah lanjut usia dan itu memberatkan Anda.” Beliau menjawab, “Kalau bukan karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, aku tidak akan mengerjakannya lagi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ عَلِمَ الرَّمْىَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى

“Barangsiapa yang tahu memanah kemudian meninggalkannya, maka ia bukan golongan kami—atau beliau bersabda, “Maka ia telah berbuat maksiat.” (HR. Muslim).

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Ismail ‘Alaihissalam adalah seorang pemanah. Demikian pula dengan nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga adalah seorang pemanah ulung.

Uqbah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda—saat itu beliau berada di atas mimbar,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah, kekuatan itu adalah dengan melempar—beliau mengucapkannya tiga kali).” (HR. Muslim).

Melempar dalam hadits ini bisa bermakna memanah, menombak, dan menembak dengan berbagai jenis senjata.

2. Bermain Tombak
Aisyah—radhiyallahu ‘anha—berkata, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdiri di depan pintu kamarku, sedangkan utusan Habasyah (Etiopia) mengadakan permainan dengan tombak mereka di masjid…..” (HR. Bukhari dan Muslim).

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Bermain tombak, bukan hanya sekadar permainan belaka. Namun di dalamnya ada unsur melatih keberanian untuk berperang dan persiapan menghadapi musuh.” (Fathul Bari, 1/549).

Saat sekarang, ada berbagai jenis senjata yang dapat digunakan untuk berlatih, di antaranya adalah pedang, golok, toya, double stick, dan sebagainya. Seorang Muslim dituntut mampu menggunakan setidaknya salah satu dari berbagai jenis senjata yang ada.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mempunyai pasukan tangguh yang berasal dari Muhajirin dan Anshar. Beliau memiliki bala tentara yang terkenal, seperti Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah Al Jarrah, Khalid bin Walid, Abdullah bin Rawahah dan banyak lagi selain mereka—ridhwanullahi ‘alihim ajma’in. Untuk bisa seperti mereka, tidak ada upaya yang bisa mengantarkannya kecuali latihan yang serius.

3. Adu Kekuatan (Gulat/Sparing)
Dalam sirahnya, Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa ada seorang yang berbadan kuat di kota Makkah bernama Rukanah. Manusia banyak yang mendatanginya untuk bergulat. Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berada di dataran yang luas, lalu datang Rukanah menghadap beliau dengan membawa anak-anak kambingnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepadanya, “Wahai Rukanah, bertakwalah kepada Allah, apakah kamu tidak mau menyambut dakwahku?” Rukanah balik bertanya, “Apakah ada bukti untuk kejujuranmu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Iya. Bagaimana menurutmu jika aku bisa mengalahkanmu dalam gulat, apakah kamu mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?” “Iya. Mari kita bergulat,” jawab Rukanah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian mengambil kuda-kuda untuk mulai bergulat. Beliau bergulat dengan sigap hingga membuat Rukanah terheran-heran dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dapat mengalahkannya dalam waktu singkat. Rukanah meminta diulang hingga tiga kali. Namun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallamtetap memenangkan gulat tersebut hingga Rukanah bersedia menyatakan masuk Islam.

Bayangkan, jika seorang non Muslim menantang Anda bergulat atau jenis adu kekuatan lainnya dengan taruhan, jika kalah dia akan masuk Islam, siapkah Anda memanfaatkan peluang ini? Ternyata, fisik yang kuat pun bisa menjadi penunjang dakwah seorang dai.

4. Renang
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
”Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.”(HR. An-Nasai, lihat Silsilah shahih : 309).

Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan perintahkanlah mereka untuk melompat ke atas kuda.”

Tidak ada jenis olahraga yang dapat menguatkan tulang, melenturkan urat saraf dan menambahkan ketangkasan seperti olahraga renang. Berenang melibatkan semua otot di seluruh bagian tubuh. Semua organ vital, seperti jantung dan paru-paru ikut terlatih. Ini sangat menyehatkan dan membuat tubuh bertambah bugar. Daya tahan tubuh pun meningkat. Renang membuat otot dada dan paru-paru mengembang yang membuat kapasitasnya makin besar. Berenang sangat efektif membakar lemak. Berdasarkan penelitian, sekitar 25% kalori bisa terbakar dengan berenang.

5. Menunggang Kuda
Dulu, mengunggang kuda adalah salah satu penopang peperangan yang dapat mengantarkan kemenangan, sehingga dengan urgensi tersebut, Islam menyebutkannya dalam al Qur’an dan sunnah panglima perang generasi pertama—Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Firman Allah Subhaanahu Wata’ala, artinya,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al Anfal: 60).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Memanahlah dan paculah kuda.” (HR. Muslim).

Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah adalah orang-orang yang paling sempurna dan lihai menunggang kuda. Mereka membuka hati dengan hujjah dan petunjuk. Menaklukkan negara dengan pedang dan senjata. Kelihaian menunggang kuda pada zaman modern sekarang ini, bisa diqiyaskan dengan kemampuan mengendarai berbagai jenis kendaraan. 

APA YANG TELAH KITA SIAPKAN
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya,
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al Anfal: 60).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah sabdanya telah mengingatkan,

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاق

“Barang siapa yang mati dan belum pernah berjihad, dan tidak pula bertekad untuk berjihad, maka ia mati pada salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Tak ingin dikatakan mati munafik, semua orang yang ditanya tentang keinginannya untuk berjihad, ramai-ramai menjawab ingin berjihad. Tapi pertanyaan selanjutnya, apa yang telah kita persiapkan untuk puncak Islam ini?

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya,
“Dan jika mereka mau berangkat (untuk berjihad), tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.” (QS. At-Taubah: 46).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki sembilan buah pedang, tujuh baju baja, enam tameng—pesan moral; Islam tidak mengajarkan ilmu kebal—lima tombak dan pisau kecil.

Subhanallah! Seorang nabi akhir zaman, kekasih Allah, merasa perlu melakukan persiapan sematang itu? Dengan doa dan kedekatannya kepada Allah Subhaanahu Wata’ala beliau mampu menyelamatkan diri dari musuh-musuhnya, namun beliau ingin mengajarkan kepada kita pentingnya i’dad (persiapan).

Lakukanlah persiapan untuk menggetarkan musuh-musuh Allah. Dan semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak layak menjalankan perintah Allah yang penuh berkah ini disebabkan keengganan kita melakukan persiapan. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman dalam kelanjutan ayat di atas, artinya,

“…Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka (untuk berjihad), maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46).Wallahu Dzul Quwwah Al Matin
(Al Fikrah No.14 Tahun X/29 Rabi’ul Akhir 1430 H)